Apa Itu Sick Building Syndrome?
Greenlab Indonesia
Tuesday, 19 Aug 2025
Apakah Anda pernah merasa pusing, lelah, atau sulit berkonsentrasi ketika berada di dalam gedung, tetapi gejala tersebut hilang saat Anda keluar? Kondisi ini bisa jadi bukan kebetulan, melainkan tanda Sick Building Syndrome (SBS). Sindrom ini berkaitan erat dengan kualitas udara dalam ruangan, yang sering kali luput dari perhatian banyak orang, khususnya di gedung perkantoran dan bangunan dengan ventilasi terbatas.
Apa Itu Sick Building Syndrome (SBS)?
Sick Building Syndrome (SBS) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan gejala kesehatan yang dialami penghuni atau pekerja saat berada di dalam suatu gedung. Gejala biasanya berkurang atau hilang ketika orang tersebut meninggalkan gedung.
Menurut World Health Organization (WHO), SBS umumnya muncul karena kualitas udara dalam ruangan yang buruk, ventilasi tidak memadai, hingga adanya bahan kimia atau polutan tertentu.
Gejala Sick Building Syndrome
Beberapa gejala umum SBS antara lain:
-
Sakit kepala dan pusing.
-
Mata kering, iritasi, atau perih.
-
Hidung tersumbat atau bersin-bersin.
-
Kulit kering atau gatal.
-
Rasa lelah berlebihan.
-
Kesulitan konsentrasi.
Jika banyak pekerja di satu gedung mengalami gejala serupa, hal ini bisa menjadi indikasi adanya masalah kualitas udara dalam ruangan.
Penyebab Sick Building Syndrome
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan SBS, di antaranya:
-
Ventilasi Buruk
Sirkulasi udara yang tidak baik membuat polutan menumpuk di dalam ruangan. -
Polutan Udara dalam Ruangan
Misalnya asap rokok, debu, jamur, senyawa organik volatil (VOC) dari cat atau bahan bangunan, serta karbon monoksida. -
Kelembapan Tinggi
Kelembapan yang berlebih bisa memicu pertumbuhan jamur dan bakteri. -
Peralatan Elektronik dan Kantor
Printer dan mesin fotokopi dapat melepaskan partikel atau zat kimia berbahaya.
Hubungan SBS dengan Kualitas Udara
Kualitas udara dalam ruangan sangat berpengaruh pada kesehatan penghuni gedung. Udara yang tercemar dapat memicu gejala SBS, bahkan dalam jangka panjang bisa menurunkan produktivitas kerja.
Laboratorium lingkungan biasanya melakukan uji kualitas udara dalam ruangan (Indoor Air Quality/IAQ) untuk mendeteksi parameter penting, seperti:
-
Partikulat (PM2.5, PM10).
-
Karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO₂).
-
Volatile Organic Compounds (VOC).
-
Jamur dan bakteri di udara.
Cara Mencegah Sick Building Syndrome
Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko SBS:
-
Meningkatkan ventilasi dengan membuka jendela atau menggunakan sistem HVAC yang baik.
-
Rutin membersihkan filter AC agar tidak menumpuk debu dan kotoran.
-
Menggunakan tanaman indoor yang dapat membantu menyerap polutan udara.
-
Melakukan uji kualitas udara secara berkala dengan bantuan laboratorium lingkungan.
Sick Building Syndrome (SBS) adalah masalah kesehatan yang sering terjadi di gedung-gedung dengan kualitas udara buruk. Gejala seperti sakit kepala, iritasi mata, dan rasa lelah dapat disebabkan oleh ventilasi yang tidak memadai atau adanya polutan di dalam ruangan.
Dengan menjaga kualitas udara dalam ruangan, baik melalui ventilasi yang baik, perawatan sistem AC, maupun uji kualitas udara oleh laboratorium, risiko SBS bisa ditekan. Udara yang sehat bukan hanya menjaga kesehatan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan dan produktivitas pekerja.