Asap Karhutla Sudah di Mana-Mana di Kalimantan dan Pekerja Perkebunan serta Tambang Adalah yang Paling Berisiko
Greenlab Indonesia
Thursday, 23 Jul 2026
Dua hari sebelumnya, 18 Juli 2026, BMKG Stasiun Supadio mencatat 301 titik panas di Kalimantan Barat dalam satu hari pengamatan. Empat puluh titik di antaranya masuk kategori kepercayaan tinggi.
Sepanjang paruh pertama 2026, tepatnya per 21 Juli, akumulasi jumlah hotspot karhutla di Indonesia terhitung telah sebanyak lebih dari 80.000 titik angka yang melampaui seluruh tahun sebelumnya pada periode yang sama. Dan ini belum masuk periode puncak kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Delapan puluh ribu hotspot. Belum puncaknya.
Di tengah semua angka itu, ada kelompok yang paling merasakan dampaknya tapi paling sedikit mendapat perhatian dalam narasi karhutla: pekerja perkebunan sawit, karyawan tambang, operator alat berat, dan tenaga lapangan lainnya yang setiap hari beroperasi di bawah langit yang sama langit yang kini mulai diselimuti asap.
BMKG memprediksi potensi karhutla mulai meningkat di wilayah Riau pada bulan Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.
Prediksi itu sudah terbukti bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan.
Sejak awal musim kemarau pada 1 Mei hingga 17 Juli 2026, BPBD Kalimantan Selatan mencatat sebanyak 86 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 285,02 hektare. Memasuki pertengahan Juli, peningkatan karhutla terlihat semakin tajam. Dalam kurun 1 hingga 17 Juli saja, luas lahan yang terbakar mencapai 191,43 hektare, atau sekitar 67 persen dari total luas karhutla selama musim kemarau tahun ini.
Angka 67% dari total terjadi hanya dalam satu bulan dan itu baru Juli. Agustus dan September, yang secara historis adalah puncak karhutla di Kalimantan, masih di depan.
Wilayah Kalimantan Tengah bagian selatan saat ini berada pada zona merah atau kategori Sangat Mudah Terbakar berdasarkan sistem informasi Spartan BMKG. Kondisi ini menandakan bahwa alang-alang dan dedaunan kering yang menutupi lantai hutan berada dalam status sangat kering, sehingga meningkatkan risiko terjadinya karhutla jika dipicu oleh titik api.
Ketapang menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak di Kalimantan Barat, sekaligus mencatat suhu tertinggi mencapai 34,4 derajat Celsius.
Kombinasi tanah yang sangat kering, suhu udara yang terus meningkat, dan El Niño yang masih aktif menciptakan kondisi yang oleh para ahli disebut sebagai fire weather cuaca yang secara aktif mendorong terjadinya dan memperluas kebakaran.
Saat kebakaran lahan gambut atau hutan terjadi, yang dilepaskan ke udara bukan hanya asap biasa. Gambut yang terbakar menghasilkan campuran gas dan partikel yang sangat kompleks dan berbahaya:
| Polutan dari Asap Karhutla | Konsentrasi Saat Karhutla Besar | Dampak Kesehatan |
|---|---|---|
| PM2.5 (partikel <2,5 µm) | Bisa mencapai 500–1.000 µg/m³ (vs baku mutu 55 µg/m³) | Masuk alveoli paru, menembus pembuluh darah, ISPA, asma, kardiovaskular |
| PM10 (partikel <10 µm) | 2–10× di atas baku mutu normal | Tersangkut di saluran napas atas, iritasi, bronkitis |
| Karbon Monoksida (CO) | Sangat tinggi dari gambut tidak sempurna terbakar | Tidak berbau, mengurangi kapasitas darah membawa oksigen |
| Nitrogen Dioksida (NO₂) | Meningkat signifikan | Iritasi paru, memperburuk asma, membentuk ozon permukaan |
| Sulfur Dioksida (SO₂) | Dari gambut yang mengandung sulfur | Iritasi saluran napas, bronkospasme |
| Senyawa organik volatil (VOC) | Berbagai jenis dari pirolisis biomassa | Beberapa bersifat karsinogenik (benzena, formaldehida) |
| Ozon (O₃) | Terbentuk dari reaksi fotokimia NO₂ | Iritasi paru, menurunkan fungsi paru, memperparah asma |
| Timah hitam (Pb) | Jika ada pembakaran bahan campuran | Neurotoksin, terakumulasi dalam tubuh |
Saat karhutla besar terjadi di Kalimantan atau Sumatera, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di kota-kota sekitarnya bisa melonjak dari "Baik" (<50) ke "Sangat Tidak Sehat" (>200) atau bahkan "Berbahaya" (>300) hanya dalam beberapa jam.
Saat asap karhutla menebal, instingtif kita adalah memikirkan warga kota yang terjebak di dalam rumah. Tapi ada kelompok yang jauh lebih terpapar dan jauh lebih rentan karena mereka tidak bisa memilih untuk tetap di dalam ruangan:
Pekerja Perkebunan Sawit Kalimantan dan Sumatera adalah jantung perkebunan sawit Indonesia. Saat karhutla berkobar di sekitar konsesi sawit, pekerja pemanen, penyemprot herbisida, dan pemelihara lahan terus bekerja di bawah kanopi asap durasi paparan 8–10 jam per hari, setiap hari kerja.
Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa kawasan perkebunan sawit sering berbatasan langsung dengan lahan gambut yang terbakar. Mereka bukan hanya terpapar asap dari jarak jauh mereka bekerja di dekat atau di dalam zona asap aktif.
Pekerja Tambang Batubara dan Mineral Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur adalah produsen batubara terbesar Indonesia. Operator alat berat, pengemudi dump truck, dan tenaga lapangan tambang bekerja di area terbuka yang tidak memiliki perlindungan dari paparan asap.
Tambang terbuka (open pit mining) memiliki karakteristik yang memperparah paparan: area yang luas, tidak ada vegetasi yang bisa menyaring asap, dan aliran udara yang sering terjebak di dalam pit sehingga konsentrasi polutan lebih tinggi dari area sekitarnya.
Petugas Pemadam Karhutla 180 personel Manggala Agni ditempatkan di tiga Daerah Operasional untuk melaksanakan patroli rutin, pemantauan hotspot, pemadaman dini, serta edukasi kepada masyarakat.
Mereka adalah kelompok dengan paparan tertinggi dan terdekat dengan sumber pembakaran. Tapi protokol K3 untuk paparan asap pada petugas pemadam karhutla masih sangat bervariasi di berbagai daerah.
Pekerja Konstruksi dan Infrastruktur Banyak proyek infrastruktur aktif di Kalimantan jalan, jembatan, dan fasilitas industri yang tidak bisa dihentikan begitu saja saat asap menebal. Pekerja konstruksi outdoor menjadi kelompok yang paling sedikit mendapat perlindungan K3 khusus terkait karhutla.
Di sinilah situasi 2026 menjadi lebih mengkhawatirkan dari sebelumnya. Karhutla tidak terjadi dalam isolasi ia terjadi bersamaan dengan kemarau El Niño yang sudah memanas sejak bulan lalu.
Pekerja outdoor di Kalimantan saat ini menghadapi dua bahaya sekaligus yang bekerja secara sinergis:
Bahaya 1: Asap (Paparan PM2.5 dan Gas Kimia) PM2.5 yang tinggi menyebabkan ISPA dan gangguan paru. CO yang terhirup mengurangi kapasitas darah membawa oksigen. Ketika kadar oksigen yang bisa dibawa darah berkurang, kemampuan kerja fisik menurun dan risiko kelelahan meningkat drastis.
Bahaya 2: Suhu Tinggi (Heat Stress dan WBGT) Ketapang Kalbar sudah mencatat 34,4°C dengan kelembapan tinggi pada pertengahan Juli. Ini menciptakan kondisi iklim kerja dengan WBGT yang bisa melampaui NAB bahkan untuk pekerjaan dengan beban sedang.
Interaksi Keduanya: Saat tubuh mencoba mendinginkan diri di suhu tinggi, ia meningkatkan frekuensi pernapasan. Frekuensi pernapasan yang meningkat berarti lebih banyak udara yang masuk dan dalam kondisi asap karhutla, itu berarti lebih banyak PM2.5 dan gas berbahaya yang terhirup per satuan waktu.
Pekerja yang melakukan aktivitas fisik berat di bawah asap karhutla pada suhu 34°C bisa menghirup volume polutan 3–4 kali lebih banyak dari orang yang hanya duduk diam di tempat yang sama.
UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja Pasal 3 mewajibkan syarat keselamatan kerja untuk "mencegah dan mengendalikan timbulnya atau menyebarnya suhu, kelembapan, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran." Asap karhutla secara eksplisit masuk dalam cakupan kewajiban ini pengusaha wajib mengambil langkah pengendalian, bukan hanya menerima kondisi asap sebagai "force majeure" alam.
Permenaker No. 5 Tahun 2018 tentang K3 Lingkungan Kerja Mengatur NAB untuk faktor kimia yang terdapat dalam asap karhutla:
- CO (Karbon Monoksida): NAB 25 ppm (TWA 8 jam)
- SO₂: NAB 2 ppm
- NO₂: NAB 0,2 ppm
- Debu total: NAB 10 mg/m³
- Debu respirabel: NAB 3 mg/m³
PP No. 22 Tahun 2021 ISPU sebagai Sistem Peringatan Berdasarkan Permen LHK No. 27 Tahun 2021 tentang ISPU, sistem kategorisasi kualitas udara memberikan panduan untuk tindakan:
| Kategori ISPU | Nilai | Arti | Panduan untuk Pekerja Outdoor |
|---|---|---|---|
| Baik | 0–50 | Tidak ada dampak | Aktivitas normal |
| Sedang | 51–100 | Sensitif perlu hati-hati | Pekerja sensitif (asma, PPOK) hindari aktivitas berat lama |
| Tidak Sehat | 101–200 | Berdampak bagi semua | Batasi aktivitas outdoor intensitas tinggi, gunakan masker |
| Sangat Tidak Sehat | 201–300 | Berdampak serius | Hindari semua aktivitas outdoor; masker N95 wajib |
| Berbahaya | >300 | Darurat | Hentikan semua aktivitas outdoor; evakuasi jika perlu |
Banyak perusahaan di Kalimantan dan Sumatera belum memiliki SOP karhutla yang terstruktur. Ini yang seharusnya ada:
Sistem Pemantauan Harian
- Pantau nilai ISPU dari stasiun BMKG atau AQI terdekat setiap pagi sebelum shift dimulai
- Tetapkan ambang nilai ISPU yang memicu perubahan prosedur operasional (contoh: ISPU >150 → wajib masker N95, ISPU >250 → rotasi shift lebih pendek, ISPU >300 → hentikan operasi outdoor)
Area Istirahat yang Terlindungi Sediakan ruang istirahat ber-AC atau setidaknya berventilasi baik dengan filter yang memadai, di mana pekerja bisa beristirahat dalam udara yang lebih bersih selama jam makan dan periode istirahat.
Pemantauan Kualitas Udara On-Site Untuk perusahaan yang beroperasi di kawasan yang jauh dari stasiun pemantauan BMKG, pertimbangkan pemasangan sensor udara portabel atau lakukan pengujian kualitas udara ambien secara berkala oleh laboratorium terakreditasi terutama selama musim karhutla aktif.
Pemantauan Kesehatan Pekerja Selama musim karhutla, pantau gejala pernapasan pada pekerja secara aktif. Pekerja yang menunjukkan gejala ISPA, batuk persisten, atau sesak napas tidak boleh dipaksakan bekerja di outdoor dan perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dengan kondisi cuaca yang lebih kering akibat pengaruh El Niño. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya karhutla, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Dengan 80.000+ hotspot dan karhutla yang terus meluas di Kalimantan dan Sumatera, perusahaan yang beroperasi di zona terdampak membutuhkan dua hal yang bisa diukur secara objektif: data kualitas udara aktual di area operasi dan kondisi iklim kerja yang terverifikasi bukan hanya ISPU kota terdekat yang mungkin jauh dari lokasi tambang atau kebun.
Greenlab Indonesia menyediakan layanan pengujian lingkungan yang terakreditasi KAN untuk mendukung K3 pekerja selama musim karhutla:
- Pengujian kualitas udara ambien on-site PM2.5, PM10, CO, SO₂, NO₂ di area operasi tambang, perkebunan, dan konstruksi; data yang valid secara regulasi untuk membandingkan dengan baku mutu PP No. 22 Tahun 2021 dan sebagai dasar keputusan operasional K3
- Pengukuran faktor kimia lingkungan kerja konsentrasi CO, SO₂, NO₂ di area kerja tertutup atau semi-tertutup (kabin alat berat, mess, gudang) yang bisa mengakumulasi polutan dari asap karhutla di sekitarnya; dibandingkan dengan NAB Permenaker No. 5 Tahun 2018
- Pengukuran iklim kerja (WBGT) kombinasi suhu kemarau El Niño dan aktivitas fisik outdoor; mengukur beban panas aktual yang diterima pekerja di lokasi tambang dan kebun; sesuai Permenaker No. 5 Tahun 2018
Puncak karhutla Agustus-September masih di depan. Saat ini adalah waktu paling tepat untuk memastikan data kualitas udara baseline sudah ada di lokasi operasi Anda sebelum kondisi memburuk dan keputusan K3 harus dibuat berdasarkan perkiraan, bukan data. Konsultasikan kebutuhan pemantauan kualitas udara dan lingkungan kerja selama musim karhutla dengan tim Greenlab Indonesia.